Akademisi: Promo Ojol Bisa Picu Monopoli dan Beratkan Mitra Driver

oleh

Uri.co.id, MAKASSAR – Guna menjaga industri yang lebih baik, perang tarif promo jor-joran diharapkan segera berakhir.

Jika tak segera diselesaikan, akan banyak kekhawariran yang muncul.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mulsim Indonesia (UMI) Makassar, Syamsuri Rahim mengkhawatirkan semua pihak makin bergantung dengan hanya satu entitas bisnis.

Bahkan, diskon besar-besaran itu juga akan berdampak kepada layanan kepada konsumen menjadi buruk.

Apalagi dengan kategori pasar di Indonesia, menurut dia, memiliki perilaku konsumen yang tidak terlalu memerhatikan aspek keselamatan.

“Kemudian, pelaku bisnis lain yang tidak bisa bersaing dan dipaksa mengikuti model ojol, nanti melahirkan pasar ojol yang dimonopoli perusahaan tertentu dan kemudian mengendalikan semuanya,” kata Syamsari belum lama ini

“Jadi kalau Monopoli sudah terjadi, ujung-ujung konsumen jadi korban dan nanti seenaknya mengatur tarif,” jelas Syamsuri menambahkan.

Diketahui, aksi perang tarif promo ojek online (ojol), dinilai masih akan terus terjadi. Perang tarif promo tersebut dinilai akan menganggu industri layanan transportasi berbasis aplikasi tersebut kepada public pengguna ojek online.

Langkah perusahaan transportasi daring (online) asal Malaysia, Grab misalnya meluncurkan strategi promosi tarif sampai Rp 1 per sekali jalan.

Pakar Transportasi Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Ir Syafi’i mengatakan, kalau sampai ada yang memberikan diskon lebih 70 persen, ini merupakan mekanisme yang kurang sehat.

“Kalau terkait kebutuhan masyarakat, pemerintah harus hadir. Tidak bisa tinggal diam. Pemerintah harus mengawasinya, tidak boleh terlalu bebas memberikan diskon,” ujar Syafi’i via pesan WhatsApp, Minggu (19/5/2019).

Bila ingin memberikan diskon besar, lanjut dia, perlu dipikirkan beban para driver yang secara otomatis nantinya bias semakin berat pekerjaannya.

“Pemerintah tidak bisa tinggal diam dan membiarkan kebijakan diskon fantastis alias membakar uang itu diteruskan,” katanya.

Direktur Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Harryadin Mahardika, pada kesempatan lain menyebutkan, jika perang promo hingga Rp 1 per sekali jalan itu terus dilakukan dalam jangka panjang, kegiatan promosi itu dapat dikategorikan sebagai Predatory Promotion yang bertujuan memonopoli pasar.
Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin menjamu ratusan warga Bantaeng untuk berbuka puasa di Rujab Bupati Bantaeng, Sabtu (18/5/2019) sore.

Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin menjamu ratusan warga Bantaeng untuk berbuka puasa di Rujab Bupati Bantaeng, Sabtu (18/5/2019) sore. (handover)

“Predatory Promotion dalam jangka panjang tentu saja akan menciptakan ketidak seimbangan pasar. Konsumen yang sensitif terhadap harga akan beralih ke layanan perusahaan yang melakukan Predatory Promotion tersebut, meski ada risiko turunnya kualitas pelayanan akibat kenaikan permintaan yang drastis,” ujarnya.(Uri.co.id)

Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Timur:

Follow juga Instagram Timur: ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!